Rabu, 28 Desember 2016

Tanpa Permisi

Biarkan ramai-ramai itu.
Mereka hanya tertawa dan melawak semampu mereka.
Biarkan hujan jatuh.
Mereka hanya ingin membuat tanah
Basah dengan rindu – rindu yang dibawa
Karena jarak antara langit dan bumi begitu gelap.

Sesekali kau cium aku dengan gemas.
Sesekali kau goda aku dengan meremas.
Pelukan jatuh sering, tanpa harus meminta.
Sampai aku terengah – engah di tengah – tengah.

Bercumbu dengan malu – malu, kita.
Tanpa sadar kita hanya berselimut kelambu.
Suara selokan yang akrab dengan pulang, mereka saksi
Cinta telah datang.
Rindu enggan lenyap, meski senyap.

Aku menyukai ini.
Maaf, bila esok kau akan aku sayangi, tanpa permisi.

Maaf kelak rindu kembali dengan bertubi-tubi.

Jumat, 23 Desember 2016

Ketahuilah

Suara rintih dari kejauhan.
Toa berbunyi menghentak pagi, dilahan sang petani.
Mengkoyak tanah demi mencari cara membeli nasi.

Aku jalan dengan tertatih.
Mengingat percakapan kita di kota kala itu, dan aku kembali perih.
Jalan serasa jauh, malam yang akan mengukuhkanku, atau dingin yang akan membunuhku ?

Kabut semakin memakan malam.
Bulan susut, embun yang enggan menempa tanah yang kusam.
Air yang mengalir di sela ceruk.
Suara yang kian riak bergantian di sudut tengkuk.
Kini aku tahu, ini bukan perasaan yang seharusnya terbentuk.

Perasaan yang berantakan, kalut yang menggambarkan kekecewaan.
Kau tahu, cinta tak pernah bisa tumbuh begitu saja.
Selalu ada pertemuan yang mewakili meskipun tak pernah disepakati.
Mungkin inilah kenapa aku merasa teramat kecil di rasa yang terpencil.

Kau jauh, dan mata enggan terjatuh.
Sihirmu selalu berhasil, tapi aku memilih untuk menyingkir.

Jika nanti memang tak pernah ada kita di dunia, setidaknya kau tahu aku pernah ada.
Ketahuilah, cinta tak pernah sia-sia meskipun kita memilih untuk tak bersua.



About me

Pages

recent posts

Pinterest

Flickr Images

Like us on Facebook