Suara rintih dari kejauhan.
Toa berbunyi menghentak pagi, dilahan
sang petani.
Mengkoyak tanah demi mencari cara
membeli nasi.
Aku jalan dengan tertatih.
Mengingat percakapan kita di kota kala
itu, dan aku kembali perih.
Jalan serasa jauh, malam yang akan
mengukuhkanku, atau dingin yang akan membunuhku ?
Kabut semakin memakan malam.
Bulan susut, embun yang enggan menempa
tanah yang kusam.
Air yang mengalir di sela ceruk.
Suara yang kian riak bergantian di
sudut tengkuk.
Kini aku tahu, ini bukan perasaan yang
seharusnya terbentuk.
Perasaan yang berantakan, kalut yang
menggambarkan kekecewaan.
Kau tahu, cinta tak pernah bisa tumbuh
begitu saja.
Selalu ada pertemuan yang mewakili
meskipun tak pernah disepakati.
Mungkin inilah kenapa aku merasa
teramat kecil di rasa yang terpencil.
Kau jauh, dan mata enggan terjatuh.
Sihirmu selalu berhasil, tapi aku
memilih untuk menyingkir.
Jika nanti memang tak pernah ada kita
di dunia, setidaknya kau tahu aku pernah ada.
Ketahuilah, cinta tak pernah sia-sia
meskipun kita memilih untuk tak bersua.